“Homeland Insecurity”

“Homeland Insecurity”Ada sebuah artikel di Business Week Online tentang masalah yang dihadapi oleh Departement of Homeland Security. Judulnya agak lucu, “Homeland Insecurity“, sebuah plesetan terhadap berbagai kegagalan yang dihadapi oleh Dept. of Homeland Security tersebut.

Departement of Homeland Security dibentuk setelah kejadian serangan 11 September 2001. Saat ini mereka berusaha mengembangkan sistem yang (akan) digunakan untuk mendeteksi dan melindungi Amerika dari serangan-serangan luar.

Information Technology (IT) merupakan salah satu bagian dari program mereka. Bahkan mungkin dia merupakan bagian yang sangat penting. Sayangnya ada banyak program pengembangan IT yang gagal (terlambat, melewati budget yang disediakan, hasilnya di bawah harapan, dan seterusnya). Memang kalau dilihat statistik, banyak proyek IT yang mengalami hambatan seperti di atas. Kegagalan implementasi IT bukan monopoli dari Dept. of Homeland Security saja. Ini merupakan “fenomena” umum.

Mengapa demikian ya? Apakah memang IT demikian sulitnya dikendalikan sehingga proyek-proyek IT menjadi liar? Alasan yang sering saya gunakan adalah bidang IT ini masih baru, sehingga dia masih belum sesempurna bidang ilmu Sipil, misalnya. (Alasan saja! he he he – tapi ini sebuah fakta.)

Salah satu hal yang juga disoroti dalam artikel tersebut adalah masalah ketergantungan dari Dept. of Homeland Security kepada kontraktor atau outsourcernya. Ternyata ini juga merupakan masalah tersendiri. Bagaimana melakukan outsourcing yang baik? Mereka kesulitan dalam mengendalikan kontraktornya. Padahal pekerjaan yang mereka outsource-kan merupakan hal yang terkait dengan keamanan. Kegagalan dari implementasi akan menimbulkan celah keamanan.

Satu poin yang diutarakan di artikel tersebut adalah masalah ketidakmampuan memonitor proyek outsourcing ini. Bukan masalah outsourcingnya sendiri.

The problem isn’t so much in using contractors but rather the lack of qualified department staff to monitor their progress.

Nah, saya setuju dengan hal tersebut. Seingat saya hal tersebut merupakan salah satu poin kami dalam presentasi tentang outsourcing di Sharing Vision.

Sebuah renungan. Mudah-mudahan kita bisa belajar dari pengalaman mereka.

~ oleh brodienz pada Desember 23, 2007.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.